Junk List

It’s been so long since the last time I post an entry to the
blog. I feel screwed up lately. Too many things in da head or maybe it just
empty. I don’t even feel like I wanna write something nice. This is the junk
list of my mind, need to let it go so I can feel better and relax.

  1. I don’t like the idea about getting cold, my
    nose is such sensitive and wet. Cannot going anywhere, just sleep-eat-take a medicine-sleep-eat-take a
    medicine that’s goin over and over, That’s suck ! I prefer to have a fresh and
    powerfull body so I can do many things.
  2. I had a phoned this morning from an old friend,
    he comes with the idea that I’m now an artist! It always happen, the conversation with an old friend comes
    along with idea about being artist which is rellative to my missing all this
    time. Hate it. Kampus extravaganza is an accident. I’m fully ignorant about the
    idea. There’s no rellative. I don’t meet anyone for a long time for some other
    reason, a good ones.
  3. I’m nervous about the idea that grace will spend
    a few days in jogja, I’m afraid I cannot welcoming her as well. I’m not so sure
    my place will good enough for her. I’m also worry about arrange things for her
    so she can have a good time here.
  4. I don’t reply to the publisher. I don’t write
    any lately. I hate my self for this. I blame people who always came to my house
    and interrupting me, but in fact its all my fault. I need to be more clear in
    giving sign to others. Cannot hope they understand me, I’ll just have to say it
    loud : “get the fuck up of my room, I need space!”
  5. I dunno where to go then. On the 9th
    of august I’ll check out of the boarding house. i’ve not decide yet where to
    go, will I just stay here in jogja, move to another house or I’ll be back to Kediri and continued the
    study? I dunno. A bit frustrating waiting the final answer from PUSTRAL,
    whether they reject or accept me as the employee. That’s the key. I’ll stay in
    jogja if I got the job.
  6. I don’t like the idea about a managing director
    of samsara, I keep thingking about the responsibility. Could I responsible for
    it? I’m afraid that I cannot act as well as the others. I think grace or kiki
    are better in action and performance. I’m a bit too wild as free as I was
    before, and I’am afraid the idea of wild, free and smoke comes along with the
    responsibility of the managing director. That position sounds so hard cause its
    like related to what you see as a role model. I’m not a good role model. Fiuh…i
    feel a bit low!
  7. I think I’m now in a transition mode where
    things from the past crashing with the mind of now, it’s like bonding me to run
    next day for the future. When I feel I’m
    ready to move on with all the plans, then everything left behind comes and
    pushing me to turn over. Will i? that’s the question!
  8. I really had a fight with my body machine, my
    hormones goes as well as the sexual and reproductive function, it stick on my mind that I cannot touch my
    self properly. The ideas about Good and Bad, Wrong and True, are disturbing me
    all the time. I can put some other guy in my vagina to relaxing my passion, but
    I cannot. It’s wrong. But also being good is not as easy as I tought, I fight
    all the time with my brain and my hormones, and it feels so bad. However,
    making love is always not the same with making sex or just make it all out !
    Fuck, my brain is shit! I really don’t know, am I good to my self if
    just put my self to be a good person while my body machine begging for some
    pretty sex. Or I’m just too naïve to have an affair in aim to pretty sex?i
    dunno!

Well. I
think I just need one thing….a meditation! Yeah, meditation !

Hello Bram

Kudengar kabar dari jauh

Ia tak lagi sendiri

Kali ini ia benar-benar tak lagi sendiri

Lelaki itu, yang dulu ku sayangi, telah meminang kekasihnya

Akhirnya, ia memberikan sebagian hidupnya untuk perempuan
itu, yang tak ku kenal

Ada sedih yang menusuk, itu tak kupungkiri

Namun ada juga kelegaan yang membebaskan

Aku masih sendiri,

Masih harus berjuang

Masih harus menggeram

sesekali menjerit, tidaaak tuhan !

kuanggap saja

ini adalah bonus dari tuhan

semoga aku belajar bijak dan rendah hati, itu maunya tuhan!

Aku percaya !

Hello bram,

Semoga bahagia, begitu saja

Bahasa Jurnalistik Indonesia

Oleh : Goenawan Mohamad

Pengantar
Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas.
Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor. Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, yang diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan.

Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Penghematan Unsur Kata
1. Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti.
Misalnya:
agar supaya
agar, supaya
akan tetapi tapi
apabila bila
sehingga hingga
meskipun meski
walaupun walau
tidak tak
(kecuali diujung
kalimat atau
berdiri sendiri)

2. Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
Misalnya:
”Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang”, menjadi ”Keadaan lebih baik dari sebelum perang”. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: ”Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang”.

3. Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.
sjah
sah
khawatir kuatir
akhli ahli
tammat tamat
progressive progresif
effektif efektif

4. Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek.
Misalnya:
kemudian =
lalu
makin = kian
terkejut = kaget
sangat = amat
demikian = begitu
sekarang = kini

Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.

Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Penghematan Unsur Kalimat (1)
Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh pembikinan kalimat dengan pemborosan kata.

1. Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat:
Misalnya:
• ”Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubah-ubah setiap zaman”. (Bisa disingkat: ”Merupakan kenyataan, bahwa …..”).
• ”Apa yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas”.
(Bisa disingkat: ”Yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro……”).

2. Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
Misalnya:
• ”Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri”? (Bisa disingkat: ”Akan terus tergantungkah Indonesia…..”).
• Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak”.
(Bisa disingkat: ”Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak”).

3. Pemakaian dari sebagai terjemahan of (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; juga daripada.
Misalnya:
• ”Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan”.
• (Bisa disingkat: ”Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan”.
• ”Sintaksis adalah bagian daripada tatabahasa”.
• (Bisa disingkat: ”Sintaksis adalah bagian tatabahasa”).

4. Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
Misalnya:
• ”Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India”.
• (Bisa disingkat: ”Uni Soviet cenderung mengakui……”).
• ”Pendirian semacam itu mudah untuk dipahami”.
• (Bisa disingkat: ”Pendirian semacam itu mudah dipahami”).
• ”GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang modal”.
• (Bisa disingkat: ”GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbaruhi…….”).
Catatan:
Dalam kalimat: ”Mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk demi kejelasan dipertahankan.

5. Pemakaian adalah sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu:
Misalnya:
• ”Kera adalah binatang pemamah biak”.
• (Bisa disingkat ”Kera binatang pemamah biak”).
Catatan:
Dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan, misalnya dalam kalimat: ”Pikir itu pelita hati”. Kita bisa memakainya, meski lebih baik dihindari. Misalnya kalau kita harus menterjemahkan ”Man is a better driver than woman”, bisa mengacaukan bila disalin: ”Pria itu pengemudi yang lebih baik dari wanita”.

6. Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu.
Misalnya:
• ”Presiden besok akan meninjau pabrik ban Goodyear”. (Bisa disingkat: ”Presiden besok meninjau pabrik….”).
• ”Tadi telah dikatakan ……..” (Bisa disingkat: ”Tadi dikatakan.”).
• ”Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri”. (Bisa disingkat: ”Kini Clay mempersiapkan diri”).

Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.

Penghematan Unsur Kalimat (2)

7. Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan:
Misalnya:
• ”Gubernur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti”.
• ”Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat”. (Bisa disingkat: ”Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang tepat”.).
Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu.

8. Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang-kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.
Misalnya:
• ”Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia”.
• (Bisa disingkat: ”Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia”).
• ”Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia”.

9. Pembentukan kata benda (ke + ….. + an atau pe + …. + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu.
Misalnya:
• ”Tanggul kali Citanduy kemarin mengalami kebobolan”. (Bisa dirumuskan: ”Tanggul kali Citanduy kemarin bobol”).
• ”PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta”. (Bisa dirumuskan: ”PN Sandang rugi Rp 3 juta”).
• ”Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (Bisa disingkat: ”Ia telah tiga kali menipu saya”).
• Ditandaskannya sekali lagi bahwa DPP kini sedang memikirkan langkah-langkah untuk mengadakan peremajaan dalam tubuh partai”. (Bisa dirumuskan: ”Ditandaskannya sekali lagi, DPP sedang memikirkan langkah-langkah meremajakan tubuh partai”).

10. Penggunaan kata sebagai dalam konteks ”dikutip sebagai mengatakan” yang belakangan ini sering muncul (terjemahan dan pengaruh bahasa jurnalistik Inggris & Amerika), masih meragukan nilainya buat bahasa jurnalistik Indonesia. Memang, dalam kalimat yang memakai rangkaian kata-kata itu (bahasa Inggrisnya ”quoted as saying”) tersimpul sikap berhati-hati memelihat kepastian berita. Kalimat ”Dirjen Pariwisata dikutip sebagai mengatakan……” tak menunjukkan Dirjen Pariwisata secara pasti mengatakan hal yang dimaksud; di situ si reporter memberi kesan ia mengutipnya bukan dari tangan pertama, sang Dirjen Pariwisata sendiri. Tapi perlu diperhitungkan mungkin kata sebagai bisa dihilangkan saja, hingga kalimatnya cukup berbunyi: ”Dirjen Pariwisata dikutip mengatakan…..”.
Bukankah masih terasa kesan bahwa si reporter tak mengutipnya dari tangan pertama?
Lagipula, seperti sering terjadi dalam setiap mode baru, pemakaian sebagai biasa menimbulkan ekses.
Misalnya: Ali Sadikin menjelaskan tetang pelaksanaan membangun proyek miniatur Indonesia itu sebagai berkata: ”Itu akan dilakukan dalam tiga tahap”. Kata sebagai dalam berita itu samasekali tak tepat, selain boros.

11. Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Dimana sebagai kataganti penanya yang berfungsi sebagai kataganti relatif muncul dalam bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat.
1) Dr. C. A. Mees, dalam “Tatabahasa Indonesia” (G. Kolff & Co., Bandung, 1953 hal. 290-294) menolak pemakaian dimana. Ia juga menolak pemakaian pada siapa, dengan siapa, untuk diganti dengan susunan kalimat Indonesia yang ”tidak meniru jalan bahasa Belanda”, dengan mempergunakan kata tempat, kawan atau teman. Misalnya: ”orang tempat dia berutang” (bukan: pada siapa ia berutang); ”orang kawannya berjanji tadi” (bukan: orang dengan siapa ia berjanji tadi). Bagaimana kemungkinannya untuk bahasa jurnalistik?
2) Misalnya: ”Rumah dimana saya diam”, yang berasal dari ”The house where I live in”, dalam bahasa Indonesia semula sebenarnya cukup berbunyi: ”Rumah yang saya diami”. Misal lain: ”Negeri dimana ia dibesarkan”, dalam bahasa Indonesia semula berbunyi: ”Negeri tempat ia dibesarkan”.
Dari kedua misal itu terasa bahasa Indonesia semula lebih luwes, kurang kaku. Meski begitu tak berarti kita harus mencampakkan kata dimana sama sekali dari pembentukan kalimat bahasa Indonesia. 1)
hanya sekali lagi perlu ditegaskan: penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, bisa tak tepat dan boros. Saya ambilkan 3 contoh ekses penggunaan dimana dari 3 koran:
Kompas, 4 Desember 1971:
”Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) oleh serdadu-serdadu Amerika (GI) dimana konsentrasi besar mereka ada di Vietnam”.
Sinar Harapan, 24 November 1971:
”Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini sedang menggarap 9 buah perkara tindak pidana korupsi, dimana ke-9 buah perkara tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya masih dalam pengusutan.”
Abadi, 6 Desember 1971:
”Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, dimana secara tidak langsung telah dapat mempengaruhi usaha-usaha pemerintah di dalam menjaga kestabilan, baik untuk perluasan produksi ekonomi dan peningkatan ekspor”.
Dalam ketiga contoh kecerobohan pemakaian dimana itu tampak: kata tersebut tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Sebetulnya masing-masing bisa dirumuskan dengan lebih hemat:
• ”Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) serdadu-serdadu Amerika (GI), yang konsentrasi besarnya ada di Vietnam”.
• ”Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkata tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya (sisanya) masih dalam pengusutan”.
Perhatikan:
1. Kalimat itu dijadikan dua, selain bisa menghilangkan dimana, juga menghasilkan kalimat-kalimat pendek.
2. ”dewasa ini sedang” cukup jelas dengan ”dewasa ini”.
3. kata ”9 buah” bisa dihilangkan ”buah”-nya sebab kecuali dalam konteks tertentu, kata penunjuk-jenis (dua butir telor, 5 ekor kambing, 7 sisir pisang) kadang-kadang bisa ditiadakan dalam bahasa Indonesia mutahir.
• ”Selanjuntya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dewasa ini masih belum menentu. Hal ini (atau lebih singkat: Ini) secara tidak langsung telah dapat …. dst”.
Perhatikan: Kalimat dijadikan dua. Kalimat kedua ditambahi Hal ini atau cukup Ini diawalnya.

12. Dalam beberapa kasus, kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain sesudahnya juga bisa ditiadakan, asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) untuk menjamin kontinyuitas.
Misalnya:
• ”Bukan kebetulan jika Gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2500 tenaga kerja setengah terdidik”. (Kata sebab diawal kalimat kedua bisa ditiadakan: hubungan kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas).
• ”Pelatih PSSI Witarsa mengakui kekurangan-kekurangan di bidang logistik anak-anak asuhnya. Kemudian ia juga menguraikan perlunya perbaikan gizi pemain” (Kata kemudian diawal kalimat kedua bisa ditiadakan; hubungan kronologis antara kedua kalimat secara implisit cukup jelas).

Tak perlu diuraikan lebih lanjut, bahwa dalam hal hubungan kausal dan kronologi saja kata yang berfungsi menyambung dua kalimat yang berurutan bisa ditiadakan. Kata tapi, walau atau meski yang mengesankan ada yang yang mengesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.

Kejelasan
Setelah dikemukakan 16 pasal yang merupakan pedoman dasar penghematan dalam menulis, di bawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
1. Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan juga pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
2. Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.

Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti juga bisa menguasai bahan penulisan dalam suatu sistematik. Ada orang yang sebetulnya kurang bahan (baik hasil pengamatan, wawancara, hasil bacaan, buah pemikiran) hingga tulisannya cuma mengambang. Ada orang yang terlalu banyak bahan, hingga tak bisa membatasi dirinya: menulis terlalu panjang.
Terutama dalam penulisan jurnalistik, tulisan kedua macam orang itu tak bisa dipakai. Sebab penulisan jurnalistik harus disertai informasi faktuil atau detail pengalaman dalam mengamati, berwawancara dan membaca sumber yang akurat. Juga harus dituangkan dalam waktu dan ruangan yang tersedia.

Lebih penting lagi ialah kesadaran tentang pembaca. Sebelum kita menulis, kita harus punya bayangan (sedikit-sedikitnya perkiraan) tentang pembaca kita: sampai berapa tinggi tingkat informasinya? Bisakah tulisan saya ini mereka pahami? Satu hal yang penting sekali diingat: tulisan kita tak hanya akan dibaca seorang atau sekelompok pembaca tertentu saja, melainkan oleh suatu publik yang cukup bervariasi dalam tingkat informasi.

Pembaca harian atau majalah kita sebagian besar mungkin mahasiswa, tapi belum tentu semua tau sebagian besar mereka tahu apa dan siapanya W. S. Renda atau B. M. Diah. Menghadapi soal ini, pegangan penting buat penulis jurnalistik yang jelas ialah: buatlah tulisan yang tidak membingungkan orang yang yang belum tahu, tapi tak membosankan orang yang sudah tahu. Ini bisa dicapai dengan praktek yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.

Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:
• tanda baca yang tertib.
• ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan standard.
• pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea.

Cukup kiranya ditekankan perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran dalam menulis, hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang kesana-kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari hal-hal yang perlu dan relevan.

Menuju kejelasan bahasa, ada dua lapisan yang perlu mendapatkan perhatian:
1. Unsur kata
2. Unsur kalimat

Kejelasan Unsur Kata
1. Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income per capita, Meet the Press, steam-bath, midnight show, project officer, two China policy, floating mass, program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi. Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak.
Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module feasibility study, after-shave lotion, drive-in, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterpeneur, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, dll., karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau begitu, ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya bell-bottom dengan ”cutbrai”) tetap perlu.

2. Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya sejak 15 tahun terakhir, pers berbahasa Indonesia bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. ”Hankam”, ”Bappenas”, ”Daswati”, ”Humas” memang lebih ringkas dari ”Pertahanan & Keamanan” ”Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, ”Daerah Swantantra Tingkat” dan ”Hubungan Masyarakat”.

Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat: ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yang membuat akronim untuk bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di kalangan remaja sehari-hari: ”ortu” untuk ”orangtua”; atau di pojok koran: ”keruk nasi” untuk ”kerukunan nasional”) tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik (misalnya ”Manikebu” untuk ”Manifes Kebudayaan”, ”Nekolim” untuk ”neo-kolonialisme”. ”Cinkom” untuk ”Cina Komunis”, ”ASU” untuk ”Ali Surachman”).
Bahasa jurnalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya ”Djagung” untuk ”Djaksa Agung”, ”Gepeng” untuk ”Gerakan Penghematan”, ”sas-sus” untuk ”desas-desus”.

Saya tak bermaksud memberikan batas yang tegas akronim mana saja yang bisa dipakai dalam bahasa pemberitaan atau tulisan dan mana yang tidak. Saya hanya ingin mengingatkan: akronim akhirnya bisa mengaburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan, hingga baik yang mempergunakan ataupun yang membaca dan yang mendengarnya bisa terlupa akan isi semula suatu akronim. Misalnya akronim ”Gepeng” jika terus-menerus dipakai bisa menyebabkan kita lupa makna ”gerakan” dan ”penghematan” yang terkandung dalam maksud semula, begitu pula akronim ”ASU”. Kita makin lama makin alpa buat apa merenungkan kembali makna semula sebelum kata-kata itu diakronimkan. Sikap analitis dan kritis kita bisa hilang terhadap kata berbentuk akronim itu, dan itulah sebabnya akronim sering dihubungkan dengan bahasa pemerintahan totaliter dan sangat penting dalam bahasa Indonesia.

Kejelasan Unsur Kalimat
Tapi seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat.

Pada dasarnya setiap kalimat yang amat panjang, lebih dari 15-20 kata, bisa mengaburkan hal yang lebih pokok, apalagi dalam bahasa jurnalistik. Itulah sebabnya penulisan lead (awal) berita sebaiknya dibatasi hingga 13 kata. Bila lebih panjang dari itu, pembaca bisa kehilangan jejak persoalan. Apalagi bila dalam satu kalimat terlalu banyak data yang dijejalkan.

Contoh:
”Harian Kami”, 4 Desember 1971:
”Sehubungan dengan berita ‘Harian Kami’ tanggal 25 November 1971 hari Kamis berjudul: ‘Tanah Kompleks IAIN Ciputat dijadikan Objek Manipulasi’ (berdasarkan keterangan pers dari Hamdi Ajusa, Ketua Dewan Mahasiswa IAIN Djakarta) maka pada tanggal 28 November jbl. di Kampus IAIN tersebut telah diadakan pertemuan antara pihak Staf JPMII (Jajasan Pembangunan Madrasah Islam & Ihsan – Perwakilan Ciputat) dengan Hamdi Ajusa mewakili DM IAIN dengan maksud untuk mengadakan ‘clearing’ terhadap berita itu.”

Kalimat itu terdiri dari 60 kata lebih. Sebagai pembaca, saya memerlukan dua kali membacanya untuk memahami yang ingin dinyatakan sang wartawan. Pada pembacaan pertama, saya kehilangan jejak perkara yang disajikan di hadapan saya. Ini artinya suatu komunikasi cepat tak tercapai. Lebih ruwet lagi soalnya jika bukan saja pembaca yang kehilangan jejak dengan dipergunakannya kalimat-kalimat panjang, tapi juga si penulis sendiri.

Pedoman, 4 Desember 1971:
”Selama tour tersebut sambutan masyarakat setempat di mana mereka mengadakan pertunjukan mendapat sambutan hangat.”
Perhatikan: Penulis kehilangan subjek semula kalimatnya sendiri, yakni sambutan masyarakat setempat. Akibatnya kalimat itu berarti, ”yang mendapat sambutan hangat ialah sambutan masyarakat setempat.”
Sinar Harapan, 22 November 1971:
”Di kampung-kampung kelihatan lebaran lebih bersemarak, ketupat beserta sayur dan sedikit daging semur, opor ayam ikut berlebaran.
Dari rumah yang satu ke rumah yang lain, ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan di langgar-langgar, surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, daging semur, opor ayam disantap bersama oleh mereka.”
Perhatikan: Siapa yang dimaksud dengan kata ganti mereka dalam kalimat itu? Si penulis nampaknya lupa bahwa ia sebelumnya tak pernah menyebut ”orang-orang kampung”. Mengingat dekat sebelum itu ada kalimat ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan kalimat surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, kalimat panjang itu bisa berarti aneh dan lucu: ”daging semur, opor ayam disantap bersama oleh ketupat-ketupat.

To me, you’re so real

To me, you’re so real

You and I are real

Glad to fight on our first day

Glad to see your anger

And glad that I can speak up my mind

Can’t you see

You listen what your mind told you

I listen what my mind speak to me

And still, we taking care each other

You hate me when I make the face like a baby

And I hate you when you say “Fuck”

We hate each other on our discussion

And still, we go to bed in warm

The prettiest thing in the morning

Is when I see my eyes on your eyes

You see me with bright eyes

The first thing I would love to hear

“good morning my dear, what you dream?”

Cups of coffe on my round table

With the sunshines and wind blows

You and I are so real

Just like in the dream

Got nothing to lose

Got nothing to hide

Got nothing to fake

Cause I is who I’am

Cause you is who you’re

And still, we taking care each other

Don’t cry but be happy

Cause it’s a good thing

To have what we have

To feel this powerfull feelings

On me

On you

There’s no us in this reality

The boundaries

The distance

Tied us like a prison

Cannot see

Cannot touch

Cannot listen

And still, we taking each other

To me, you’re so real

Guilt and shame

Semalam andi membawakan seorang bayi
kucing yang ditemukannya terlantar di jalan. Bayi itu baru berumur beberapa
hari, kedua matanya belum terbuka. aku menjaganya semalaman. Sepanjang malam
ia menangis, tubuhnya bergerak-gerak tak tentu arah. Kaki-kakinya yang masih
lemah itu terus bergerak, berputar, berbalik terus meraung-raung. Ia mencari
ibunya. Tanpa matanya, ia mencari ibunya dengan nalurinya. aku mencoba
memberinya susu sapi namun itu tak membuatnya berhenti menangis. Usapan,
ciuman, belaian tak membuatnya tenang. aku baru tidur pukul 2 malam itu.
Keesokan harinya, bayi mungil it uterus memangis lagi, sama seperti sebelumnya.
Semua usaha tak bisa membuatnya tenang. Ketika aku memegangnya dalam kedua
tangan ku, mulutnya yang kecil itu menghisap-hisap jariku. Seketika aku
tahu, yang dibutuhkannya adalah seorang ibu. Selama berjam-jam bayi mungil it
uterus menangis. aku tidak pernah menyangka hal itu akan sangat mempengaruhiku. Ketika aku benar-benar putus asa tak bisa membuatnya tenang, aku jadi
ikut menangis bersamanya. Lalu gambaran itu muncul. Bayi kucing mungil itu
berukuran sama dengan janin berusia 8 minggu. aku membayangkan sekecil itu pula
janin yang ku kandung ketika di aborsi. Tangisannya yang pilu benar-benar
seakan mengorek luka bathinku. Ketika ia menghisap jariku, aku
membayangkan seperti itu pula rasanya jika saja cisco ada. Tangisannya itu
begitu memilukan hati, aku tak dapat membayangkan bagaimana sakitnya yang
dirasakan cisco ketika di aborsi. Seharusnya aku bisa membelainya,
menyusuinya, dan menghentikan tangisnya. Tapi bayi itu tidak berada dalam
genggaman ku. aku tak sempat mengecupnya. aku tak pernah tahu
warna bola matanya.

tak tahu baunya seperti apa. tadi Sore hari aku
langsung mengembalikan bayi kucing mungil itu pada andi. aku tidak punya
energi lagi untuk mengurusnya. Emosi ku terkuras habis mendengar tangisnya
itu. Rasa bersalah membuat ku mengurung diri hari ini. Perasaan bersalah itu
benar-benar membuat ku merasa tak berharga. Gagal sebagai seorang perempuan.

andi, i’am so sorry about taro. i cannot control my self. since last nite taro make me so depressed, he recall all the memory behind. when he suck my finger i wonder how painful it was for cisco, crying and look after me. i feel so bad.

I’am a farmer

I’am a farmer
grass and tree are my treasure
small bamboo house in the mid of greenies,stand still as tough the star in the skies
do u like farm?
Would u like to seed the plant?
Orange carrot strawberry onion pepper and apple, you named it
and far away where eyes may reach, the hills await to visit..Lets running upon the wind, the winner has a bright eyes
are you thirsty my dear? Let me fill the glass with love, the river brings us a story through the pure fresh water, it will clean your body and refresh your soul
the sun is hiding and the night is coming, take a look up the sky. Lying on the grass while the star start to shining, choose yours and make wish
yes,i want you to be happy 🙂

Ten Tips for a Better Interview

1. Be prepared! Always read up on the subject you are reporting about and the person you are interviewing. Your source will appreciate your effort, and you will be able to skip questions that can be answered by an assistant, book or document. When scheduling the appointment, ask your source to suggest documents or other sources of information about the topic you will discuss. The interviewee will appreciate your interest and often share valuable documents before the interview. Make sure your tape recorder has batteries that work. Bring an extra tape as well as pens and notebook.

2. Set the rules of the interview right up front! Be sure your subject understands the story you are working on (this will help keep the interview on track). Additionally, the interviewee must understand that everything they say is “on the record.” It is best to establish these ground rules when making the interview appointment. Although most government officials have enough experience with the media to indicate when something is “off-the record” or “on background,” other experts may not understand the differences. Remember that an upfront clarification may be required (especially when your source’s job or life could be endangered by being quoted).

3. Be on time! The worst impression you can make on a source is being late for the interview.

4. Be observant! Observe details of the place and of your interviewing partner; this can add color to your story. If you are interviewing people in their home or office, be sure to get a good look around and note what you see. For example, they may have some old photos that show them in a more personal light. You may start an interview with assumptions about a person and leave with a completely different impression. However, this may be exactly what your source intended. Perception is a tricky business! Try to talk to others, colleagues or friends of your source, to get a bigger picture.

5. Be polite. Don’t rush your source! It is important to establish a polite rapport and a level of comfort for the interviewee. Some interviewees, on the other hand, need a couple minutes to become comfortable talking to reporters. Even though you may only have 30 minutes for an interview, you should not rush your subject. If you sense the interviewee is in a hurry, adjust your timing accordingly. Keep in mind, everyone is different. Taking the time to get to know your sources will prove valuable, especially when you need to call with follow-up questions or use them as a source for future stories. If the interview goes well, it may even go beyond the scheduled time. Give yourself plenty of time between appointments to avoid scheduling conflicts.

6. Listen but don’t be afraid to interrupt when you don’t understand! Keep your audience in mind! One reason you are conducting this interview is to explain it to your readers. If your subject uses scientific jargon or explanations only his/her peers would understand, politely interrupt and ask for further explanation. Never be embarrassed about not knowing something.

7. Silence is golden. Sooner or later you will have to ask the tough questions that your subject may be loath to discuss. When you start asking those provocative questions, the answers most likely will be short, useless or carefully worded. You may not get an answer at all. If this occurs, look your source in the eye and don’t say a word. In most cases, your opponent will begin to feel uncomfortable and begin to share information again. If this doesn’t work, ask for sources who might be able to answer your question.

8. Maintain eye contact! A reporter who spends most of the interview bent over taking notes or looking into a notebook can be as disconcerting as a tape recorder in an interviewee’s face. While taking notes and recording the interview, maintain as much eye contact as possible. Learn to take abbreviated notes looking down only once in a while so you can focus on your interviewee. This will make the interview more like a conversation, and enable everyone to be more relaxed.

9. Before your leave… ask your source if there is anything that you might have forgotten to ask. Perhaps the interviewee is burning to tell you useful information, but you did not even think to ask that question. Don’t leave without getting a contact number or e-mail address and a good time to call with follow-up questions. Always ask for other sources. Colleagues or friends of the interviewee may be more knowledgeable or willing and able to speak to you. Thank your source for spending time talking with you before you leave.

10. Review your notes right after the interview! Don’t wait until the end of the day or later in the week to review your notes. Go over them right away, while everything is fresh in your mind, filling in your shorthand and elaborating on your observations. Skip that date for drinks with your office pals until after you have reviewed and organized your notes.

The Art of Interview

THE SET UP

RESEARCH: The best questions are informed questions. Whether you have five hours or five days, gather clippings and court records and talk to the subject’s cohorts.

TACTICS: Make a tactical plan and discuss it with a friend or colleague. Whenever possible, I interview people close to the action, while they are actually doing whatever it is I am writing about. However, whistle-blowers and reluctant targets are best contacted at home. You can calm a nervous source by taking him or her for a walk. And if you arrange a lunch appointment you can force a person to spend at least an hour with you.

ORGANIZE: Write single-word clues on the flap of your notebook to remind you of issues you want to cover. Organize paperwork so you won’t fumble with it as you talk. Begin with softball questions (i.e., a chronological life history), but prepare a comprehensive all-purpose question for cases where the door might slam in your face.

INNER INTERVIEWING: As a warm-up (maybe during your morning shower), imagine a successful interview. Reporters who don’t believe they will get the interview or the information usually fail. As far as I’m concerned, no one should ever refuse to talk to me. It works.

THE OPENER — The techniques of “inner interviewing” continue. Never approach your subject as though they seem menacing or likely to clam up. Appear innocent, friendly, unafraid and curious. If you are a hard-boiled, cynical reporter who talks out of the side of your mouth, you will need acting lessons.

PAY ATTENTION TO DETAIL: Inventory the room thoroughly and in an organized fashion. Look at the walls, read the top of the desk and study the lapel pin. You’ll get clues and details for your story. Make notes on what you see.

LOOK FOR OTHER SOURCES: While at the interview, meet the secretary and the other co-workers and make note of details about them. This will come in handy as you turn them into sources.

RELUCTANT PEOPLE

KEEP IT GOING — When the door is closing on your face, find common ground. “By the way, I notice you’ve got a poodle. I’ve got a poodle. Weird dogs. Just the other day . . .” As a person hangs up the phone, I quickly say I only want to explain what I am working on and they should at least know that. (They usually comment once they hear what I am doing). On one occasion I inadvertently repeated something that was inaccurate and a cop dragged out a report I wanted to see just so he could show me I was wrong. You’ve got to be quick, sincere, kind and courteous.

IT’S NO BIG DEAL — Respond to the “I can’t comment” by saying “You don’t have to worry. Heck, you are just one of several people I’ve talked with. It’s no big deal. Here’s what I understand about the situation. Let’s talk about this part a little bit . . . . (and then start talking about the information you want to confirm).” Notice that I avoid a debate over the reasons they don’t want to talk with me. You’ll lose that debate 9 times out of 10. Keep the conversation rolling.

SYMPATHY — Respond to the “I’m afraid to comment” with a little sympathy and a lot of reassurance: “I understand your concern. These are tough times for your agency. But a lot of folks talk to me in situations like this, including people you work with. Let me at least cover a couple of things with you, it would help me a lot.” Give glancing recognition to their concerns, but try to move right on to the point of the story.

PUBLIC OFFICIAL OR OTHER BIG SHOT — Respond to the “no comment” from an “important” person or bureaucrat by saying: “You know, I feel bad about just putting a `no comment’ in this story since the readers will think you are hiding something. Let’s find a way to talk about this. Tell me about this, for instance . . . “

DOOR NO. 1, OR DOOR NO. 2? — As a last ditch method with the reluctant public official or big shot, I say, “Look, whether you talk to me or not, I’m going to do a story on this. So you can have it one of two ways: Either I do a fair story that says that you refused to cooperate, or I do a fair story that has your point of view in it. Now which do you want?” They usually choose Door No. 2.

DETOURS — If a person won’t talk, go to others in his or her office or to associates. You will get more information, and by doing this you will loosen them up.

RATCHETING — If a subject insists on talking “on background,” take notes anyway. At the end of the interview, pick out a good quote in your notes that isn’t too damning and say: “Now what about this thing you said here. Why can’t you say that on the record?” If they agree to put that comment on the record, go to another one in your notes and say: “Well, if you can say that on the record, why can’t you say this? And so on. I have gotten an entire notebook on the record this way. If they insist on anonymity, however, you must honor it.

ANONYMITY — Don’t accept information “on background” without a fight. Even if it means going back to them several times, try to convince people to go on the record. (Absolutely “off-the-record” information is useless, since you can’t use it under any circumstance. Avoid it. It’s a waste of time.)

FOR THE SAKE OF CLARITY — There are cases where someone tells you part of a story and then balks, or you already know part of a story and can’t get the rest. Try saying, “look, you’ve already told me this much (or, I already know this much). You had better tell me the rest. I mean, you don’t want me to get it wrong, do you? For instance, what about this part here . . . (refer to something in your notes).”

PLAY LIKE YOU KNOW — Ask the official WHY he fired the whistle-blower rather than asking WHETHER he did the deed. The question presumes you already know even if you don’t have it confirmed. They’ll start explaining rather than denying.

THE STATUE OF LIBERTY PLAY — Emphasize that people are more believable when they put their name behind what they say. It’s the American Way: A robust public debate.

LOST REPORTER — It doesn’t hurt to say you need the person’s help. “Who is going to explain this to me if you don’t?”

TRY AGAIN — When the door is slammed in your face, try again a day or two later. People change their minds.

GETTING ALL THE GOODS

CHRONOLOGY — Take the subject through his or her story chronologically. You will understand the tale better, and you will spot gaps in the timetable and logic.

HOW AND WHY — When a person says something important, ask the key question: “How do you know that?” It sheds light on credibility, extracts more detail and is a door opener to other sources. Also, ask people why they do what they do, rather than just asking what they do.

SLOW MOTION — When people reach the important part of a story, slow them down so you can get it in technicolor. Ask where they were standing, what they were doing, what they were wearing, what was the temperature and what were the noises around them? Then switch to the present tense, and ask questions like: What are you doing now? What is your friend saying? You and the interview subject will then re-enter the scene and walk through it together. If this fails, tell them it is not working. “I’m trying, but I just can’t picture it yet. What did it feel like?” This is how you get a story, not a bunch of facts.

TELEPHONE — Ask people on the phone to describe their surroundings (the plaque on a man’s wall became a key detail in one story, after I had independently verified what it said). Get people to tell their stories in three dimensions (see the “slow motion” advice above).

USE YOUR EARS — We talk too much during interviews. Let the other person do the talking. After all, you can’t quote yourself. And check your biases at the door; listen with an open mind.

GETTING THE CONFESSION — Ask the subject for the names of people who support him or her. Then ask for the names of people who would criticize. Then ask what those critics are likely to say. This will jar loose uncomfortable information and tips. Ask whether the person has ever been disciplined or fired on the job or in school, charged with or convicted of a crime, arrested for drunken driving, sued, testified in court, etc. Since all this stuff is on a record somewhere, people are reluctant to lie about it.

LIARS — If you know someone is lying, allow the liar to spin his or her yarn. Don’t interrupt except to ask for more detail. Deceivers frequently provide extensive detail because they think a very complete story will add to their credibility. Listen and take good notes. When the lie has been fully constructed — down to the last nail — go back and logically de-construct it. Don’t be impatient. The fabricator is now in a corner. Keep them there until they break.

LIFE STORY — Get the life story, even in cases where you don’t intend to use it. Even when I interview a lawyer about a case, or a bureaucrat about a government policy, I get the life story if I have time. I get useful information and ask better questions as a result.

DON’T JOIN — Be sympathetic in manner, but don’t join sides with your interview sources. Don’t get sucked in by the embattled congressman who seems so cooperative when he grants you an interview and says, “I don’t believe in taking money from those guys.” You should say, “that may be true, but I’m asking you whether you took the money, not whether you believe in doing so.”

ASK AGAIN — Sometimes it pays to interview a person two or three times on the same subject. One public official gave me four different and conflicting explanations for the trips he took at taxpayer expense.

REVIEW — Go back over your notes with people. They will fill in gaps for you, and in doing so give you more information.

INNOVATE — If an outrageous question comes to mind, ask it, even if it is terribly personal. There are no embarrassing questions, just embarrassing answers. Your chisel-like questions should chip away at all sides of an issue.

DRAIN THEM — People aren’t aware of how much they know. You must lead them through their memory. Visualize your subject as a bucket full of information and empty it.

HONESTY — Don’t pretend to be someone else and don’t lie. You can certainly omit information, but the more you can reveal about the nature of your story, the more comfortable and helpful your subject will be.

BE THE DIRECTOR — A great interview feels like a conversation but moves relentlessly toward the information you need. Keep control, but do so gently.

DON’T BE UNMOVABLE — You may know what your story is about, but don’t get stuck. A great interview will change your story.

PERSONALITY — Let your personality shine through (if you have a good one). Don’t be a blank wall.

OPEN-ENDED QUESTION — Near the end of an interview, ask the person what else our readers might be interested in. Sometimes people have more than one newspaper-worthy story in them.

CHECK BACK — After the story runs, call the subject for his or her reaction. You’ll get additional stories and tips this way.

Eric Nalder
The Seattle Times
1120 John St.
Seattle, WA 98109
Phone: (206) 464-2056
Fax: (206) 464-2261
E-mail: enal-new@seatimes.com